![]() |
| Oleh, Widodo SH, Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) PB HMI, Departeman Kebijakan & Perundang-Undangan |
SriwijayaAktual.com – Baru
dua tahun berjalan roda pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sudah melakukan dua
kali perombakan besar-besaran ditubuh pemerintahan pusat, hal ini memiliki
begitu banyak pandangan baik pandangan negative juga pandangan yang positif,
hal itu menjadi lumrah dikarnakan Indonesia merupakan Negara demokrasi yang
memungkin semua orang memberikan tanggapan atas apa yang terjadi saat ini,
setidaknya ada 13 menteri yang di reshuffle oleh kebijakan Presiden Jokowi jilid II, hal ini seperti memperlihatkan bahwa porsi kekuatan politik jokowi semakin
kuat, dapat dilihat dari maneuver yang dilakukan dalam memenuhi hasrat para
petinggi partai koalisi untuk menduduki tangkup kekuasaan dalam pemerintahan,
dengan apik jokowi mampu mengakomodasi semua keperluan gerbong-gerbong yang ada
dalam barisan pemerintah, seperti Asman Abnur yang dilantik menjadi Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi menggantikan Yuddy
Chirsnandi. jika dilihat dari segi
politik Asman Abnur merupakan representasi dari Partai Amanat Nasional (PAN)
yang beberapa waktu lalu menyatakan dukungan politiknya kepada pemerintah
Jokowi-Jusuf Kalla, begitu juga dengan Airlangga Hartarto yang menjabat sebagai
Menteri Penindustrian yang merupakan representasi dari Partai Golkar yang juga
menyusul PAN merapatkan dukungan politiknya kepada cabinet Jokowi-Jusuf Kalla,
terlebih lagi ketua umum GOLKAR Setya Novanto sudah memberikan sinyal kuat
untuk maju sebagai wakil presiden mendampingi jokowi pada pemilu 2019 mendatang.
dua tahun berjalan roda pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sudah melakukan dua
kali perombakan besar-besaran ditubuh pemerintahan pusat, hal ini memiliki
begitu banyak pandangan baik pandangan negative juga pandangan yang positif,
hal itu menjadi lumrah dikarnakan Indonesia merupakan Negara demokrasi yang
memungkin semua orang memberikan tanggapan atas apa yang terjadi saat ini,
setidaknya ada 13 menteri yang di reshuffle oleh kebijakan Presiden Jokowi jilid II, hal ini seperti memperlihatkan bahwa porsi kekuatan politik jokowi semakin
kuat, dapat dilihat dari maneuver yang dilakukan dalam memenuhi hasrat para
petinggi partai koalisi untuk menduduki tangkup kekuasaan dalam pemerintahan,
dengan apik jokowi mampu mengakomodasi semua keperluan gerbong-gerbong yang ada
dalam barisan pemerintah, seperti Asman Abnur yang dilantik menjadi Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi menggantikan Yuddy
Chirsnandi. jika dilihat dari segi
politik Asman Abnur merupakan representasi dari Partai Amanat Nasional (PAN)
yang beberapa waktu lalu menyatakan dukungan politiknya kepada pemerintah
Jokowi-Jusuf Kalla, begitu juga dengan Airlangga Hartarto yang menjabat sebagai
Menteri Penindustrian yang merupakan representasi dari Partai Golkar yang juga
menyusul PAN merapatkan dukungan politiknya kepada cabinet Jokowi-Jusuf Kalla,
terlebih lagi ketua umum GOLKAR Setya Novanto sudah memberikan sinyal kuat
untuk maju sebagai wakil presiden mendampingi jokowi pada pemilu 2019 mendatang.
Dari
Reshuffle yang dilakukan selalu memberikan sebuah tanda Tanya besar bagi
masyarakat apakah reshuffle yang dilakukan oleh presiden tersebut dikarnakan
kinerja yang dilakukan para menteri yang direshuffle tidak atau belum maksimal
?? ataukah karna kepentingan politik presiden dalam mengakomodasi keperluan
partai koalisi??. Karna jika ditelusuri setidaknya kepemerintahan Jokowi-Jusuf
Kalla sudah melakukan Reshuffle sebanyak dua kali dalam waktu yang relative
singkat, hal ini mengambarkan ada berebagai
macam stigma dalam kepemerintahan dalam kepemimpinan jokowi.
Reshuffle yang dilakukan selalu memberikan sebuah tanda Tanya besar bagi
masyarakat apakah reshuffle yang dilakukan oleh presiden tersebut dikarnakan
kinerja yang dilakukan para menteri yang direshuffle tidak atau belum maksimal
?? ataukah karna kepentingan politik presiden dalam mengakomodasi keperluan
partai koalisi??. Karna jika ditelusuri setidaknya kepemerintahan Jokowi-Jusuf
Kalla sudah melakukan Reshuffle sebanyak dua kali dalam waktu yang relative
singkat, hal ini mengambarkan ada berebagai
macam stigma dalam kepemerintahan dalam kepemimpinan jokowi.
Baca juga; Apa Alasan Presiden RI Joko Widodo Reshuffle Kabinet Kerja Lagi? Ya Ini ….
Di satu sisi lain
jokowi seperti melihatkan keteguhannya dalam kancah politik nasional, hal itu
terlihat dari kepiawaiannya memfasilitasi semua kepentingan dalam satu ritme,
sebagaimana yang terlihat dari menguatnya control otonom dalam pelaksanaan
kekuasaat untuk mengangkat Kapolri, Panglima TNI dan lain sebagainya tanpa ada
intervensi dari pihak luar. Sedangkan di sisi yang lain jokowi seperti diuji
oleh otoritas kepemimpinan sebagai seorang presiden dalam dimensi kepartaian,
dimana dalam struktur Negara jokowi adalah seorang presiden namun tidak
demikian dalam struktur kepartaian. Walau bagaimanapun piawainya jokowi dalam
kepemimpinannya terhadap fraksi-fraksi dan elite politik tidak dapat serta
merta melepaskan image ketundukannya kepada elite partai yang menjadikan cap
sebagai presiden boneka sulit untuk dilepaskan, dapat dilihat dua kali
melakukan reshuffle jokowi seperti tidak memiliki daya dalam masalah ini.
jokowi seperti melihatkan keteguhannya dalam kancah politik nasional, hal itu
terlihat dari kepiawaiannya memfasilitasi semua kepentingan dalam satu ritme,
sebagaimana yang terlihat dari menguatnya control otonom dalam pelaksanaan
kekuasaat untuk mengangkat Kapolri, Panglima TNI dan lain sebagainya tanpa ada
intervensi dari pihak luar. Sedangkan di sisi yang lain jokowi seperti diuji
oleh otoritas kepemimpinan sebagai seorang presiden dalam dimensi kepartaian,
dimana dalam struktur Negara jokowi adalah seorang presiden namun tidak
demikian dalam struktur kepartaian. Walau bagaimanapun piawainya jokowi dalam
kepemimpinannya terhadap fraksi-fraksi dan elite politik tidak dapat serta
merta melepaskan image ketundukannya kepada elite partai yang menjadikan cap
sebagai presiden boneka sulit untuk dilepaskan, dapat dilihat dua kali
melakukan reshuffle jokowi seperti tidak memiliki daya dalam masalah ini.
Baca Juga; PPATK Laporkan Kepada Presiden RI, Terhadap Potensi Pajak Yang Belum Ditindaklanjuti
Reshuffle yang dilakukan presiden jokowi juga memberikan
sinyalemen tabrakan kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri yang sudah
direshuffle, bukan tidak mungkin nantinya kebijakan menteri yang lama dan yang
baru dilantik akan mengalami sebuah gesekan, karna tipikal kepemimpinan dalam
menjalani sebuah jabatan tidak dapat dilihat dalam satu waktu begitu saja,
melainkan dengan melalui proses yang secara structural berjalan dengan baik.
Dari 13 menteri yang direshuffle diantaranya adalah Menteri Pendidikan dimana
carut marut pendidikan di Indonesia saat ini bila dicermati salah satunya
adalah karna peraturan pendidikan yang selalu berubah jika menteri
pendidikannya berubah dan hal ini sudah tidak asing lagi siapapun yang menjadi
menteri bukannya mempertahankan peraturan yang baik dari masa sebelumnya malah
mengeluarkan peraturan baru, sedang Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi juga memiliki pe er yang sangat besar karna sumber
kekuatan ekonomi bangsa ini berada pada kekuatan desa, jangan sampai desa
menjadi lemah tidak memiliki daya karna sudah begitu banyak investor yang masuk
kedalam desa-desa dan daerah tertinggal.
sinyalemen tabrakan kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri yang sudah
direshuffle, bukan tidak mungkin nantinya kebijakan menteri yang lama dan yang
baru dilantik akan mengalami sebuah gesekan, karna tipikal kepemimpinan dalam
menjalani sebuah jabatan tidak dapat dilihat dalam satu waktu begitu saja,
melainkan dengan melalui proses yang secara structural berjalan dengan baik.
Dari 13 menteri yang direshuffle diantaranya adalah Menteri Pendidikan dimana
carut marut pendidikan di Indonesia saat ini bila dicermati salah satunya
adalah karna peraturan pendidikan yang selalu berubah jika menteri
pendidikannya berubah dan hal ini sudah tidak asing lagi siapapun yang menjadi
menteri bukannya mempertahankan peraturan yang baik dari masa sebelumnya malah
mengeluarkan peraturan baru, sedang Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi juga memiliki pe er yang sangat besar karna sumber
kekuatan ekonomi bangsa ini berada pada kekuatan desa, jangan sampai desa
menjadi lemah tidak memiliki daya karna sudah begitu banyak investor yang masuk
kedalam desa-desa dan daerah tertinggal.
Baca juga; Wajah Baru Kabinet Kerja Presiden RI Joko Widodo, Hasil Reshuffle Jilid II
Begitu juga dengan Archandra Tahar diangkat menajdi Menteri ESDM yang mana
merupakan ahli dalam pengeboran lepas pantai (offshore) dan sudah
berselancar belasan tahun juga merupakan sosok dibalik negosiasi penarikan Blok
Masela ketangan Indonesia dengan memutuskan eksplorasi harus dilakukan onshore
bukan offshore. Yang jadi pertanyaan besar apakah menteri ESDM yang baru
juga dapat menarik dan mengembalikan sumber daya energy dan sumber daya mineral
yang sudah dikuasai pihak asing selama ini kedalam tangan bangsa Indonesia?? Sebuah
jawaban yang berat yang harus dijawab dikarnakan sumber daya energy dan sumber
daya mineral bangsa ini sudah tergadaikan dengan adanya politik balas budi, toh
nyatanya balas budi yang dimaksud dalam dunia politik tersebut seperti
kebablasan, tidak perlu jauh-jauh untuk melihat kemewahan PT Freeport yang
sudah berpuluh tahun mengeruk harta kekayaan di Timur Indonesia, lihat saja
yang ada didaerah-daerah terpencil namun memiliki kekayaan sumber daya alam
yang sangat besar juga tidak terkoorinir dengan baik oleh pemerintah,
dikarnakan permainan spekulasi pemodal lebih besar daripada kesamarataan dalam
mewujudkan kesahteraan social, belum lagi pemerintah dalam hal ini seperti
setengah hati membiarkan kelompok masyarakat yang melakukan ekplorasi secara
manual, dan setengah hatinya lagi pemerintah membiarkan hal itu terjadi guna menguatkan
pondasi-pondasi investor yang menampung hasil alam tersebut. Walaupun dalam
peraturan pemerintah sudah mengeluarkan undang-undnag namun yang terjadi
ditengah masyarakat adalah kebalikan dari undang-undnag itu sendiri dan bahkan
bukan tidak mungkin pemerkosaan undang-undang tersebut dilakukan juga oleh
sebagian kalangan pemerintah.
Dalam reshuffle yang telah dilakukan Presiden Jokowi terlihat dapat
mengakomodasi sebagaina dari aspirasi PDIP, meski masih terbatas dan belum bisa
mewujudkan dream team di pemerintahan, namun reshuffle kali ini telah
mengirimkan sinyal bagus secara politik, bahwa Presiden memiliki keberanian
untuk membongkar pasang kabinetnya. Presiden terlihat tidak
tersandera oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada, sehingga pengangkatan
menteri-menteri baru tidak disertai dengan akrobat dan manuver politik yang
menimbulkan kegaduhan. Presiden juga terlihat memiliki otonomi dalam memutuskan
beberapa nama untuk diganti atau dipertahankan.
mengakomodasi sebagaina dari aspirasi PDIP, meski masih terbatas dan belum bisa
mewujudkan dream team di pemerintahan, namun reshuffle kali ini telah
mengirimkan sinyal bagus secara politik, bahwa Presiden memiliki keberanian
untuk membongkar pasang kabinetnya. Presiden terlihat tidak
tersandera oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada, sehingga pengangkatan
menteri-menteri baru tidak disertai dengan akrobat dan manuver politik yang
menimbulkan kegaduhan. Presiden juga terlihat memiliki otonomi dalam memutuskan
beberapa nama untuk diganti atau dipertahankan.
Baca Juga; Di Reshuffle, Yuddy Chrisnandi: Ikhlas & Terima Kasih Presiden RI Joko Widodo
Reshuffle jilid II ini
seperti memiliki banyak spekulasi dan tanda Tanya baik dikalangan pengamat dan
juga masyarakat, setidaknya dari beberapa menteri yang diganti menunjukkan
bahwa kancah perpolitikan Indonesia saat ini memasuki fase yang sangat
sensitive dimana setiap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan dapat
berpengaruh pada jalannya roda pemerintahan baik untuk saat ini ataupun untuk
pemerintahan yang akan datang, apakah yang dihasilkan dari sebuah kebijakan dan
keputusan itu nantinya baik untuk bangsa dan Negara juga masyarakat atau
sebaliknya, nmaun paling tidak Presiden dalam hal ini dapat melihat dan
menyadari bahwa masyarakat saat ini ibarat berlian yang baru diangkat dari kedalaman tanah yang masih harus dibersihakn,
hendaknya Presiden dan pemerintah saat ini dapat menjadi pengkilap atau
pengerajin berlian tersebut sehingga dapat bertambah indah, mahal dan
bermartabat masyarakat bangsa Indonesia yang besar ini. Insya Allah. (Adm).
seperti memiliki banyak spekulasi dan tanda Tanya baik dikalangan pengamat dan
juga masyarakat, setidaknya dari beberapa menteri yang diganti menunjukkan
bahwa kancah perpolitikan Indonesia saat ini memasuki fase yang sangat
sensitive dimana setiap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan dapat
berpengaruh pada jalannya roda pemerintahan baik untuk saat ini ataupun untuk
pemerintahan yang akan datang, apakah yang dihasilkan dari sebuah kebijakan dan
keputusan itu nantinya baik untuk bangsa dan Negara juga masyarakat atau
sebaliknya, nmaun paling tidak Presiden dalam hal ini dapat melihat dan
menyadari bahwa masyarakat saat ini ibarat berlian yang baru diangkat dari kedalaman tanah yang masih harus dibersihakn,
hendaknya Presiden dan pemerintah saat ini dapat menjadi pengkilap atau
pengerajin berlian tersebut sehingga dapat bertambah indah, mahal dan
bermartabat masyarakat bangsa Indonesia yang besar ini. Insya Allah. (Adm).
Baca Juga; ADD Antara Realita dan Prasangka








Komentar